KISAH KEDERMAWANAN ABUYA SAYYID MUHAMMAD AL-MALIKI


****************
Pada bulan haji, selesai thowaf di Masjidil Haram Makkah, para santri santri melaksanakan ibadah sa'i bersama abuya as Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki, sembari mendorong kereta duduk beliau, mereka para santri santri mengelilingi beliau, agar tidak disalamin banyak orang demi keamanan dan kenyamanan beliau, setelah usai melaksanaka ibadah sa'i para santri keluar, ada salah satu santri yang bertugas mencari taksi.

Beberapa saat kemudian datanglah mobil taksi tersebut, yang cukup untuk membawa beliau dan para santri santrinya.

Taksi tersebut didapat dengan harga 150 Real, harga yang dibilang cukup mahal pada saat itu.

Akhirnya rombongan pun masuk ke dalam mobil taksi. Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki duduk di kursi depan bersama sopir.

Lalu Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki pun memulai berbincang bincang dengan pak sopir taksi. Layaknya seorang penumpang biasa ngobrol dengan sopir dengan akrab. Ternyata sopir taksi tersebut juga pernah mengaji kepada Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki.

Maka makin asyiklah perbincangan mereka berdua, sambil menelusuri jalan kota Makkah yang saat itu semua jalan dialihkan melalui tempat yang sangat jauh.

Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki sesekali membahas jalanan Makkah, masalah madrasah, masalah santri dan lain-lain dengan sang sopir.

Lalu Abuya Sayyid Muhammad menoleh pada santri di belakang yang membawa tas pribadinya yang berisi uang. Beliau berkata dengan pelan, "tambahi 50 real".

Pembicaraan kemudian berlangsung lebih akrab lagi. Lalu beliau menoleh lagi ke belakang sambil berkata, "tambahi 50 real".

Lalu pembicaraan pun terus berlanjut, sesekali Abuya Sayyid Muhammad menoleh ke belakang dan mengatakan seperti tadi. "Tambahi 50 real, tambahi 100" dan seterusnya. Hingga amplop yang tadinya berisi hanya 150 real (sebagai ongkos taksi) bertambah menjadi 600 real.

Sesampainya di depan rumah beliau di Rosyaifah, sang sopir taksi itu langsung cepat keluar membukakaan pintu untuk Abuya Sayyid Muhammad. Lalu Abuya meminta amplop yang sudah diisi 600 real tadi untuk diberikan kepada sang sopir taksi tersebut.

Namun sang sopir taksi itu menolak pemberian amplop Abuya sambil bersumpah-sumpah. "Demi Allah yaa Sayyidi, kalau aku tau yang menawar mobilku tadi adalah Sayyidi, maka aku tidak akan mematok harga".

Lalu beliau menjawab. "Ya Akhi, ana tau kalau engkau ikhlas dalam mengantarkan kami, namun bukankah Allah SWT telah berfirman;

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ .(الرحمن.60)

"Dan bukankah balasan dari kebaikan adalah kebaikan pula?"

Akhirnya sopir tersebut dengan berat hati menerima pemberian yang berbalut untaian kalimat ayat indah itu. Entahlah apa yang terpikir di benak sopir tersebut setelah mematok harga 150 real, bahkan mendapat 600 real.

"Subhanallah"

Sumber. Majalah Mafahim.

-----------------------------
Mudah-mudahan kisah ini menjadi semangat kita untuk tetap bisa meniru akhlak para ulama'  dan salafus sholeh, yang sebagai pewaris Nabi, serta mudah-mudahan bisa menambah kecintaan kita kepada para ulama' dan juga kepada ABUYA SAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI, dengan harapan kita mendapat keberkahannya, dan di akhirat kelak semoga kita diakui sebagai hamba yang mencintai para ulama' dan mendapatkan syafaatnya baginda Rasulillah Muhammad SAW. Amiin Yaa Rabbal Alamin..

الفاتحة لابوي السيد محمد بن علوي بن عباس المالكي الحسنيي المكي بان الله يعلى درجا تهم في الجنة ويعيد علينا من اسرارهم وانوارهم وعلومهم وبركاتهم في الدين والدنيا والاخرة بسرالفاتحة

Oleh : Ust. Toha Mahsun
Dari Cerita Para Wali

Baca Juga

Komentar